Karena Tuhan Tahu Kita Serba Cukup

By Rayi Noormega - May 06, 2017


Berawal dari membaca buku "Negeri Para Roh" yang ditulis Rosi Simamora mengenai kisah nyata empat orang penyintas kru Jejak Petualang yang selamat dari bencana kapal laut, saya menyadari bahwa ternyata Tuhan memang selalu memberi segala sesuatunya dengan cukup.

Bahkan, Steven Callahan, seorang penyintas yang bertahan hidup di tengah lautan selama 76 hari mengatakan, 

"Meskipun nyawaku terancam dan hari esok begitu gelap, semua serba dicukupkan. Aku memiliki makanan secukupnya untuk bertahan, air secukupnya untuk mencegahku dehidrasi, kehangatan secukupnya agar aku tidak mengalami hipotermia. Dan dalam kesendirianku di tengah alam ganas yang mahaluas, aku menyadari aku tidak sendirian, karena Tuhan terasa di mana-mana. Memelihara. Menjaga."


Maka, Tuhan selalu memberi manusia sesuai porsi. Tanpa berlebih, pun tanpa kekurangan. Hal yang sama berlaku untuk setiap urusan manusia. Mengenai banyaknya rezeki yang didapat, keberhasilan yang menciptakan air di ujung mata tanda syukur, atau pun mengenai bencana serta kegagalan yang menyebabkan hati dan pikiran hilang arah. Tuhan tahu manusia ada batasnya. Maka, Ia memberi sesuai yang kita mampu, sesuai usaha yang ditemani doa.

Karena, Tuhan tahu bahwa sesuatu yang berlebih itu tidak baik. Hati manusia mudah untuk merasa di atas langit, lalu ia menyakiti hati yang lain karena ia merasa lebih. Tuhan tidak mau itu terjadi. Maka, ia menciptakan hal-hal yang membuat manusia bersedih, agar manusia ingat bahwa ia tercipta untuk mengasihi, bukan untuk merasa selangit.

Manusia harus sadar bahwa semua pasti ada ujungnya. Sesuai waktu yang ditentukan, baik kesenangan atau pun sebaliknya. Tuhan tahu kapan Ia memberi, serta kapan Ia harus menentukan jeda, agar manusia selalu ingat untuk melantunkan doa penuh harap kepada Sang Pencipta. Bukankah memang begitu cara semesta bekerja? Ada waktu tertentu untuk air laut kembali tenang, hujan berhenti membuat tanah basah, dan musim kering datang untuk membuahi hati para petani dengan doa penuh harap. Begitu seterusnya. Sebuah siklus semesta. Cukup. Semua sesuai takaran.

Lalu, apa yang membedakan? Tidak ada perbedaan rezeki, Tuhan Maha Adil. Namun, manusia berbeda dalam ucap syukur yang diingatnya setiap matahari terbit, pun tenggelam. Di saat hujan membasahi bajunya, tapi hatinya lega mencium bau tanah basah. Di saat matahari terik, tapi ia dapat minum air. Di setiap hal-hal sederhana yang sebenarnya cukup, cukup untuk dihadiahi satu ucap syukur. Maka, ucap syukur memiliki kekuatan magis. Membuat manusia merasa lengkap, tapi juga dapat membuatnya terus merasa kekurangan.

Ada saat di mana manusia hilang arah, mencoba sekuat tenaga namun hanya lelah yang dirasa. Sulit untuk dapat menyadari bahwa Tuhan memang memberi cukup. Bagaimana dengan itu? Tenang, Tuhan mendengar segala permintaan. Ini hanya masalah waktu. Kita kembali ke siklus semesta, di mana Tuhan selalu memutar roda nasib manusia yang pusatnya ada pada usaha yang dibalut doa. Bukan sekarang. Nanti, pasti terwujud.

Tidak perlu khawatir. Toh kini, Tuhan telah memberikan kita hal yang sebenarnya lebih dari cukup, jikalau kita mengamati dengan seksama mengenai makna dibalik kata syukur. Tenang, karena Tuhan tahu isi hati manusia. Pada akhirnya, usaha dan doa akan selalu sampai kepada Sang Memelihara. Ia menyimak setiap manusia. Ia menyimak semua usaha dan doa. Jangan khawatir, karena kita sebenarnya serba cukup.

Featured image via pexels 

Originally published at IDN Times (January 11, 2017)

  • Share:

You Might Also Like

0 comments