(Masih) Ada Toleransi di Bumi Ibu Pertiwi

By Rayi Noormega - May 06, 2017


Banyaknya isu politik, ditambah dengan konflik sana-sini yang melibatkan agama, ras, atau etnis kadang membuat saya meragukan negeri ini; sulit untuk tetap menegakkan nasionalime di negara yang penuh dengan guncangan mengenai perdamaian; apalagi untuk saya, salah satu dari generasi muda yang masih mencari mana yang benar atau sebaliknya.

Kami, generasi muda, masih membiasakan diri untuk tetap berpikir secara objektif tapi kritis, tidak memihak tapi mencoba memahami mana yang benar, serta berani bertindak tapi tidak gegabah; kami masih belajar. Terkadang sulit bagi kami untuk tetap berpikir positif serta menahan komentar negatif tentang mereka yang mengaku nasionalis, mengatasnamakan negara yang demokratis; tapi bertindak berlawanan dengan hak asasi. Kondisi negeri ini makin ironis. 

"Tapi, saya yakin, negeri ini masih kaya akan orang-orang yang penuh dengan cinta kasih."
 
“Bhinneka Tunggal Ika” tidak diciptakan begitu saja. Masyarakat Indonesia adalah orang-orang terpilih; kita masyarakat yang penuh dengan afeksi. Sejak dulu, kita telah terbiasa dengan perbedaan, sangat terbiasa hingga kita tidak lagi menyadari apa itu titik koma; kita semua satu gagasan, yaitu persatuan. Lalu kini, apa gunanya perpecahan? Mungkin, konflik adalah suatu teguran, supaya kita menyadari betapa pentingnya untuk kembali mengencangkan sabuk nasionalis, bukan untuk menjadi seorang yang egois.

Perjuangan kita sekarang bukan untuk memenangkan suatu identitas, kita kembali ke titik awal; berperang mempertahankan solidaritas, bukan tentang memenangkan mayoritas. Ini bukan lagi mengenai politik, ini mengenai hati nurani. Ini mengenai kita yang diciptakan sebagai manusia, bukan sebagai suatu simbol identitas, kelompok, ras, atau status tertentu; kita makhluk berakal dan dikaruniai satu hati. Maka, bertindaklah sesuai dengan apa yang dikehendaki Ibu Pertiwi; mari kita buat negeri ini tersenyum kembali.

Pada akhirnya, Tuhan mencintai persatuan, apa pun ajarannya. Mari kita coba untuk berpikir lebih jernih sebelum berbicara, mempertimbangkan dampak sebelum bertindak, dan menelaah sebelum terlanjur percaya. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang bermatabat, kita masyarakat yang kenal adat istiadat; kita berbeda, tapi di dalam, kita tetap sama.

Perbedaan bukanlah ajang kompetisi. Bukan, ini bukan tentang harga diri. Ini tentang kita, yang berakar dari sumbu perjuangan tahun empat lima. Kita, yang mengaku sebagai warga Negara Indonesia.

Kita, yang berhati "Bhinneka Tunggal Ika". #SayaToleransi, bagaimana dengan kamu?

Featured image via detikbuzz

Originally published at IDN Times (December 20, 2016)

  • Share:

You Might Also Like

0 comments