365 Hari Menjelma Adiksi


Aku salah satu yang lolos dari lubang jarum di padatnya Kota Jakarta. Aku berhasil menjadi mereka yang lebur bersama waktu dengan keahlian menebak apakah tubuh ini mampu terselip di antara celah sesak gerbong kereta setiap Jumat malam.

Aku mulai terbiasa dengan lanskap Ibukota dan membuka perbincangan dengan driver ojek online saat menunggu giliran di setiap lampu merah. Terlalu banyak percakapan. Terlalu banyak kata yang ingin dirangkai. Terlalu sedikit waktu.

Daripada menumpuk pertanyaan untuk semesta tentang berapa nama yang telah pergi, kini aku lebih tertarik dengan perusahaan sebelah yang baru saja beres melakukan akuisisi. Aku lebih memilih untuk terobsesi dengan jumlah pengikut akun maya perusahaan dan mencoba menambahkan beberapa digit dengan menyulap konten di sana-sini.

Menebak hati masing-masing tidak lagi menyenangkan, aku lebih suka terhanyut dalam analisis komentar dari mereka yang aku baca di linimasa. Aku lebih terhibur dengan warganet yang sarkastik daripada menelaah perasaan yang kadang menjelma kembar identik.

Berasumsi tentang bisnis rasanya lebih mudah daripada aku harus meramal seberapa lama sebuah nama akan bertahan di setiap hitungan jam. Kini, aku percaya bahwa kehilangan nama hanyalah sebuah momentum semesta. Fase reinkarnasi. Tanda untuk terlahir kembali.

Tempatku berdiri saat ini membuatku merasa beruntung sekali. Aku sedang dihibur semesta; mereka paham betul bahwa aku tidak ingin merasakan sakit dua kali. Aku tidak lagi begitu peduli apakah namanya akan selamanya pergi atau suatu saat akan mampir kembali.

Sesekali, aku mengintip kepingan waktu yang ia habiskan melalui foto yang biasanya diunggah untuk konsumsi publik. Rasanya, 15 detik adalah waktu yang terlalu lama untuk memahami bahwa ia masih diam di tempat dan tidak bergerak.

Ia masih menolak untuk berpindah dan aku tidak merasa salah dalam mengambil keputusan. Ia tetap sama saja. Mungkin akan tetap begitu. Selamanya. Kita tidak akan pernah berjalan dengan semestinya.

Tenang, aku tidak lagi merasa kecewa. Untuk apa? Ia memilih untuk menjadi sebuah titik dan aku tidak ingin berbalik. Rangkaian kata di tulisan ini sepertinya lebih ditujukan untukku yang tidak juga memaafkan diri sendiri; ini pekerjaan rumah yang sulit sekali.

Aku lebih memilih untuk hanyut di dalam analisis tentang ruwetnya strategi bisnis daripada berurusan dengan hati yang hanya bisa dikendalikan oleh tenaga kosmis. Aku lebih menikmati jam lembur dari Senin hingga Kamis daripada menebak setiap tindakannya dengan mengandalkan berbagai premis. 

Ia terlalu rumit. Aku terlalu sakit.

Daripada memupuk ekspektasi, lebih baik aku menjadi spasi dan memilih setiap diksi supaya tidak kentara bahwa untaiannya masih saja berisi refleksi. Aku tidak ingin kembali ke daftar isi. Ternyata, aku mampu mengakhiri suatu edisi yang pernah menjelma adiksi.

Aku mulai mengoleksi berbagai nama yang baru saja datang dan mencoba untuk tidak menjadi pola yang berulang. Aku mulai memaknai definisi dari kata hilang yang tampaknya adalah sebuah kausalitas dari kata menemukan.  


Aku ingin pulang. Kamu juga, kan? 




Gambar diambil dari Unsplash

0 comments