Makna Utuh



Tidak sampai setahun.

Ternyata, cukup dengan lima bulan aku sudah mampu mengejar ketertinggalan. Berlomba dengan semesta yang lima bulan lalu sempat menghabiskan jumlah kata di dalam prosa hingga aku mati rasa. 

Aku masih ingat betul rasanya terengah-engah tanpa adanya jalan tengah dan merasa jengah. Sepertinya, tidak ada gunanya untuk menyesali diriku yang kian berubah. Aku, toh, berhasil selamat sampai tujuan, tanpa menjadi aku yang setengah.

Mungkin, karena panasnya Kota Jakarta. Atau diri ini yang terlalu sering menelaah fakta dan data daripada mencari definisi dari frasa cinta buta. Atau karena hilangnya satu nama yang membuatku belajar makna karsa saat nihilnya asa. 

Aku tidak lagi terlalu tenggelam di dalam prosa yang kental dengan rasa atau kata yang bermakna luka walaupun hanya sehasta. Daripada bersembunyi di balik aksara dan menjadikannya mantra, aku menjelma menjadi diri yang lebih percaya dengan keputusan semesta.

Aku kini semakin memahami bahwa ekspektasi dapat berujung adiksi. Aku kian mempertanyakan persepsi terhadap kehadiran nama yang terasa seperti cerita fiksi. Daripada kehilangan esensi diri dan terbelit emosi, aku menjadi seorang yang realistis hingga terkadang skeptis. 

Tenang. Aku mengerti bahwa menjadi realistis tidak boleh melebihi garis. Aku paham betul bahwa semesta sudah mempesiapkan alur yang simetris, melebihi prediksi manusia yang sedang main tetris. Aku hanya mencoba menjadi realistis, bukan apatis.

Dengan begitu, aku mampu menjadi utuh walaupun nama yang baru itu terdengar sayup dan jauh. Aku menolak luruh walaupun untuk muncul, nama itu membutuhkan banyak waktu tempuh. 

Ini adalah jenis terjatuh tanpa menimbulkan suara gaduh. Menyimpan rasa dengan sungguh tanpa adanya gemuruh. Memanggil nama yang bermakna utuh dan membuatku sembuh dari runtuh. Jatuh ternyata tidak selamanya terasa membunuh. Walaupun begitu, adanya nama baru tidak membuatku sepenuhnya jauh dari ragu.

Kata luka sudah terlalu familiar untuk diterka. Aku tidak lagi menyimpan terlalu banyak kata jika dan menutup adanya kemungkinan munculnya prasangka. Aku berhenti untuk menerka semesta dan mulai suka dengan alur tanpa rangka. 

Aku tetap berusaha menjadikan peka sebagai marka walaupun sulit sekali untuk tidak merubahnya menjadi kata maka. Lebih baik, aku bergulat dengan angka daripada ada air mata yang harus kembali diseka.

Pada akhirnya, aku memilih jatuh cinta pada logika.



Gambar diambil dari Unsplash

x

1 comments

  1. "Lebih baik, aku bergulat dengan angka daripada ada air mata yang harus kembali diseka."

    Damn gurl, nice post!

    ReplyDelete